Halaman

Minggu, 11 November 2012

panggil aku dengan namaku


Dia seorang anak remaja . Albert namanya. Nama yang bagus. Nggak Cuma orang-orang sekitarnya yang mengatakan bagus. Akupun mengakuinya.
            Namun orang-orang sekitarnya selalu memanggil dia dengan sebutan nama ‘KOKO’. Yaa,  hanya sebagai menghormatinya karena wajah dia memang seperti orang cina. Semua keluarganyapun juga membiasakan memanggil dia dengan sebutan ‘koko’ sejak saat dia kecil.
            ‘koko..koko..” sahabatnya memanggil dia.
            Albert hanya meringis dan tersenyum saja. Namun, dalam hati dia berontak. Albert sedikit sebal bila teman-temannya memanggil dia dengan sebutan ‘koko’, apalagi itu sahabatnya sendiri. Tapi anehnya, jika keluarganya yang memanggil dia ‘koko’, dia justru senang.
            Why...???.
            Aneh.
            Memang Aneh menurutku. Sebutan ‘koko’  kan hanya embel-embel saja. Dengan panggilan ‘Koko’,  juga lebih terlihat sopan untuk memanggilnya. Dari pada namanya saja yang diucapkan, itu rasanya seolah seperti ‘njambal/ nggak memiliki aturan’ tepatnya –ngelamak- itu kata orang jawa.

Yaaah,,setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang menurut dia indah tetapi menurut orang lain jelek. Dan juga, ada yang menurut orang lain indah, tapi menurut dia jelek.

Dan itu yang aku lihat dari Albert. Memang, sahabatnya menganggap panggilan ‘koko’ itu baik. Namun, jika Albert yang bersangkutan merasa nggak nyaman, ya mau diapakan lagi.
            Di sela-sela aku bertanya. mengapa dia sebel banget dipanggil ‘koko’ oleh sahabatnya? Apakah rasa sebal itu juga ada terhadap keluarganya yang bahkan telah memanggil dia ‘koko’ semenjak kecil??.
            Albert hanya menggelengkan kepalanya. Dia hanya sebal jika panggilan ‘koko’ itu terlontar dari sahabatnya. Setelah aku tau alasannya, rasanya aku ingin ketawa cekikikan. Tapi aku tahan.
            Gimana nggak lucu, alasannya simpel banget. Kalo teman-teman atau sahabatnya yang menggil ‘koko’, dia  ngerasa seolah dia paling tua sendiri. Tapi kalo keluarganya yang manggil ‘koko’, dia merasa dianak emaskan.
            Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. :D
Aku turutin saja apa yang Albert mau. Yaa,, Hanya memanggilnya dengan sebutan Albert saja. Sejak saat itu, aku nggak berani lagi manggil dia dengan embel-embel ‘koko’ didepan namanya.
            Aku sih ok-ok saja kalo nggak manggil ‘koko’. Tapi, gimana ama temen-temen dan sahabatnya? Mereka kan nggak bakalan tau gimana rasanya hati Albert kalo mereka tetap saja memanggil Albert dengan embel-embel ‘koko’. Sedangkan Albert tak pernah berani untuk menegur sahabatnya. Dia takut, nanti para sahabatnya akan pergi jika dia menegur para sahabat-sahabatnya.. gemes juga deh ma Albert, dia hanya melampiaskan kekecewaan hatinya hanya pada tulisan-tulisan di dinding kamarnya

*sabaar ya dek Albert..*
Moga Aja sahabatmu secara  nggak sengaja, ngebaca Tulisanku ini. dan mereka bisa mengerti gimana rasanya hatimu.. :)
Kuharap, kedepannya sahabatmu nggak lagi manggil kamu dengan embelan ‘koko’ :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar