Dia seorang anak remaja . Albert namanya. Nama yang bagus. Nggak Cuma orang-orang sekitarnya yang mengatakan bagus.
Akupun mengakuinya.
Namun
orang-orang sekitarnya selalu memanggil dia dengan sebutan nama ‘KOKO’. Yaa, hanya sebagai menghormatinya karena wajah dia
memang seperti orang cina. Semua keluarganyapun juga membiasakan memanggil dia
dengan sebutan ‘koko’ sejak saat dia kecil.
‘koko..koko..”
sahabatnya memanggil dia.
Albert
hanya meringis dan tersenyum saja. Namun, dalam hati dia berontak. Albert
sedikit sebal bila teman-temannya memanggil dia dengan sebutan ‘koko’, apalagi
itu sahabatnya sendiri. Tapi anehnya, jika keluarganya yang memanggil dia ‘koko’,
dia justru senang.
Why...???.
Aneh.
Memang
Aneh menurutku. Sebutan ‘koko’ kan hanya
embel-embel saja. Dengan panggilan ‘Koko’, juga lebih terlihat sopan untuk memanggilnya.
Dari pada namanya saja yang diucapkan, itu rasanya seolah seperti ‘njambal/
nggak memiliki aturan’ tepatnya –ngelamak- itu kata orang jawa.
Yaaah,,setiap orang memang
berbeda-beda. Ada yang menurut dia indah tetapi menurut orang lain jelek. Dan juga,
ada yang menurut orang lain indah, tapi menurut dia jelek.
Dan itu yang aku lihat dari Albert.
Memang, sahabatnya menganggap panggilan ‘koko’ itu baik. Namun, jika Albert yang
bersangkutan merasa nggak nyaman, ya mau diapakan lagi.
Di
sela-sela aku bertanya. mengapa dia sebel banget dipanggil ‘koko’ oleh
sahabatnya? Apakah rasa sebal itu juga ada terhadap keluarganya yang bahkan
telah memanggil dia ‘koko’ semenjak kecil??.
Albert
hanya menggelengkan kepalanya. Dia hanya sebal jika panggilan ‘koko’ itu
terlontar dari sahabatnya. Setelah aku tau alasannya, rasanya aku ingin ketawa
cekikikan. Tapi aku tahan.
Gimana
nggak lucu, alasannya simpel banget. Kalo teman-teman atau sahabatnya yang
menggil ‘koko’, dia ngerasa seolah dia paling
tua sendiri. Tapi kalo keluarganya yang manggil ‘koko’, dia merasa dianak
emaskan.
Aku
hanya bisa geleng-geleng kepala. :D
Aku turutin saja apa yang Albert
mau. Yaa,, Hanya memanggilnya dengan sebutan Albert saja. Sejak saat itu, aku
nggak berani lagi manggil dia dengan embel-embel ‘koko’ didepan namanya.
Aku
sih ok-ok saja kalo nggak manggil ‘koko’. Tapi, gimana ama temen-temen dan
sahabatnya? Mereka kan nggak bakalan tau gimana rasanya hati Albert kalo mereka
tetap saja memanggil Albert dengan embel-embel ‘koko’. Sedangkan Albert tak
pernah berani untuk menegur sahabatnya. Dia takut, nanti para sahabatnya akan
pergi jika dia menegur para sahabat-sahabatnya.. gemes juga deh ma Albert, dia
hanya melampiaskan kekecewaan hatinya hanya pada tulisan-tulisan di dinding
kamarnya
*sabaar ya dek Albert..*
Moga Aja sahabatmu secara nggak sengaja, ngebaca Tulisanku ini. dan
mereka bisa mengerti gimana rasanya hatimu.. :)
Kuharap, kedepannya sahabatmu nggak
lagi manggil kamu dengan embelan ‘koko’ :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar